AKU BERBILANG CINTA
Sepertinya sama saat membayangkan aku duduk dipinggiran dermaga jiwa dikala sore bergerak menuju ke limbah persinggahan malam, dudukku sendiri memanjakan gelora fantasi sembari memandang lari mentari menari dibalik awan kelabu bercampur hitam nanah yang bergumulan indah diselingi sapuan dingin dan lembut jemari kuas-kuas angin. Meneduhkan pikiranku yang tak usang berdansa dan berelegi sepi, dan berharaplah jiwa ini agar waktu seperti ini tak cepat berlalu.
Tapi sore tetaplah seorang ksatria sore. Tak bermusim dan tak berharap tuan pelangi datang menghiasi disetiap huma engah jengkal imajinasi. Sore tak memiliki jatah waktu tayang panjang untuk menawarkan keindahan alam raya jingga di layar mataku yang sesungguhnya bukan untuk dimiliki atau dinikmati, karena sampai mampuspun mungkin takkan pernah bisa dikuasai. Cukuplah untuk dinikmati dalam filosofi hati penabur lelah mengusik alur mimpi.
Dan keangkuhan malam selalu siap dengan sombongnya seperti gambar setan melidahkan geraman suara diam pada kartu pos usang yang terlihat memudar warna. Menelan semua terang bahkan pintu cahaya bulanpun selalu terancam perannya meski hanya memantulkan harum bisikan hangat lewat kecupan bintang.
Aku terdiam bukan bisu
Aku memainkan gitar tanpa sebilah lagu
Kuangkat mata pikiran memahami nisbi malam. Kucoba lewati akalku seperti mereka memandang peranku seperti dalam sakit dan tak pernah sembuh. Ku tak pernah hirau sekalipun. Aku telah sadar berteman dengan malam. Gelap adalah sahabat setia sembuhkan luka yang dalam melewati tiap alinea-alinea peristiwa yang selalu kujadikan bingkai-bingkai bangkai kenangan dalam pikiran. Meninggalkan rima kasih yang terlalu menafkahi kepahitan cerita dan sulit berlalu dan berharap segera bergerak menuju bahagia.
Mungkin kesetiaan teramat dalam kuhisap disepanjang kuberjalan dijembatan hati yang panjang dan penuh lubang kepanikan saat kuterancam menuju arahmu. Malam temaniku dalam telanjang jiwa mencacatkan semua yang tak sempurna. Membasuh mengasuhku menikmati cantik kepedihan cerita. Ku selalu bertanya pada jiwamu yang selalu menemani buta , ini rahasia Tuhan, semakin hingar aku dengar.
Aku berdo’a dalam gemuruh dosa dan gempuran luka-luka
Aku merasa cinta baru …
Kutatap pagi kutemui panas matahari lagi. Aku sangat bersyukur masih bisa menjilati kesempatan ini. Meski sebentar lagi sinarnya siap menghitamkan kulitku yang tak putih, memaksaku kucurkan legam pertaruhan menghidupi hidup. Ku tak pernah menyesal terlihat samara bahkan haruspun pudar dalam status sosial kehidupan meski selalu engkau palingkan mata. Lelah tak lelah terus kuhadapi dan menghiburi hati menuju hakikat hati.
Siang … oh, kutemui dirimu dengan senyum yang tak pernah kumengerti. Kutemukanmu dalam keadaan tak telanjang dan separuh terbakar.
Aku kamu bicara tak lugu, menipu perasaan dalam kotak grosiran penuh ungkapan peluh haru dan ragu. ‘Aku menyayangimu … katamu’, tapi ‘ku tak dapat bersamamu … katamu’. Dan kuterlalu bodoh menghargai rendahnya diriku sendiri. Seperti kamu menyuruhku berlari menuju rumah yang terbakar hebat. Tanganmu menggenggam abuku. Matamu teduh menatapku dalam ribuan tanya kaku meliliti jiwaku. Kuhiraukan jejak pandangmu, kuperlabuhkan pandangku pada bibirmu yang mengapikan birahi dan berharap seperti yang kuharapkan mengobar putuskan segala asa. Terbius dalam nuansa hitam amarah. Ya, kuingin legam nanah amarah mengalihkan pembicaraan kita yang hanya membuatku terjungkal merintih dalam pengharapan tak merapal hina.
Aku terlalu lanjur membintangkanmu dalam malamku
Aku terlalu dalam mati suri menempuh jiwamu
Kau bawa dan kubawa pergi semua angan. Menjauh dari bayangan. Tak lagi bermakna dibawah payung hitam bumi kala terik membakar luka perasaanku yang menguap lebar. Semua mungkin terkuak menuju cerita akhir bersama jijik alunan melodi lagumu yang memuakkan telingaku. Kau beranjakkan tanganmu yang melingkari tubuhku yang layu. Aku terlalu sangat mengerti peranmu saat ini.
Inginku, kutundukkan matahari begitu rendah diatas jasad hidupmu
Memandangmu terbakar dalam kesakitan
… dan tak sedikitpun rasa haru meski sedikitpun menyelamatkanmu.
Aku tertunduk tak seperti menang. Selalu kau lihat dan kau ingat sejarahku dalam kekalahan desah resah kebisuan cerita palsu naskah.
Di setiap pergantian alam jiwa sederhanaku yang mengawini bayanganmu. Langkahku semakin tersapu uraian angin tanpa arah. Kubakar diriku yang penuh darah kecemasan. Aku sadar akan kastaku. Ku seperti matahari yang enggan tenggelam sedang engkau bak matahari bersinar gairah penuh dengan lukisan awan mewah. Dan kenyataan ini selalu kau coba selimuti. Sedalamnya ingin kuberbilang cinta.
AKU BILANG INI CINTA
Ini adalah cinta/
Penuh tai rayu berselimut kalbu penumbuh zina rindu/
Tak ingin sedetik berlalu tanpa peluk peluh cumbu nada rendah/
Mengurai kata puji/
Mengumbar lebar senyum palsu dalam sakit tak sembuh/
Memadu madu saat awal menyusun naskah biru/
Ah … alangkah indahnya cinta.
Ini bukankah cinta/
Ada hal busuk mengubur kebusukan/.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar